Sunday, October 10, 2010

Patani: Hilangnya Warisan Islam Di Nusantara



Bagi sebagian umat, Patani mungkin hanya sebuah nostalgia negeri Melayu. Orang-orang yang memperhatikan peta Asia Tenggara sekarang akan mengetahui bahwa sebuah negeri Islam yang dulu berjaya kini telah hilang dan tinggal kenangan.

Berbeda dengan nasib negeri lainnya seperti Bosnia, Kashmir, Chechnya atau Palestina yang tak pernah sepi dari pemberitaan. Patani ditakdirkan telah menjadi sebuah negeri yang dilupakan orang, sepi dan tidak naik panggung. Namanya hanya terdapat pada peta dan dokumen lama saja. Demikian juga dengan orang Patani, hilang dan tak dikenal.

Patani yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah Changwad atau wilayah Patani sebagaimana terdapat dalam peta negara Thailand sekarang, tetapi lebih kepada sebuah negeri yang sempadannya lebih luas (Negeri Patani Besar) yang meliputi wilayah-wilayah Narathiwat (Teluban), Yala (Jalor) dan sebagian Senggora (Songkla, daerah-daerah Sebayor dan Tibor) bahkan Kelantan, Kuala Trengganu dan Pethalung (Petaling).

Patani itu Langkasuka

Negeri Patani memiliki sejarah yang cukup lama, jauh lebih lama daripada sejarah negeri-negeri di Semenanjung Melayu seperti Malaka, Johor dan Selangor. Sejarah lama Patani merujuk kepada kerajaan Melayu tua pengaruh Hindu-India bernama Langkasuka sebagaimana dikatakan oleh seorang ahli antropologi sosial di Prince of Songkla University di Patani, Seni Madakakul bahwa Langkasuka itu terletak di Patani. Pendapat beliau ini didukung oleh ahli sejarawan lainnya seperti Prof. Zainal Abidin Wahid, Mubin Shepard, Prof. Hall dan Prof. Paul Wheatly.

Lebih jauh bahkan Sir John Braddle menegaskan bahwa kawasan timur Langkasuka meliputi daerah pantai timur Semenanjung, mulai dari Senggora, Patani, Kelantan sampai ke Trengganu, termasuk juga kawasan sebelah utara negeri Kedah (M. Dahlan Mansoer, 1979).

Dalam buku sejarah negeri Kedah, Hikayat Merong Mahawangsa, ada menyebutkan bahwa negeri Langkasuka terbagi dua: Sebagian terletak di negeri Kedah yaitu terletak di kawasan tebing sungai Merbok. Sebagian lainnya terletak di sebelah timur Kedah, yaitu di pantai Laut China Selatan. Dalam hal ini Prof. Paul Wheatly tanpa ragu mengatakan bahwa Langkasuka terletak di Patani sekarang. Pendapat beliau dikuatkan dengan temuan kepingan batu-batu purba peninggalan kerajaan Langkasuka di daerah Jerang dan Pujud (nama-nama kota pada masa itu). Konon, menurut buku Negarakertagama, Jerang atau Djere merupakan ibukota Langkasuka.

Sedangkan asal muasal orang Patani menurut para antropolog berasal dari suku Javanese-Malay. Sebab ketika itu suku inilah yang mula-mula mendiami Tanah Melayu. Kemudian berdatangan pedagang Arab dan India yang melakukan persemendaan sehingga menurunkan keturunan Melayu Patani di selatan Thai sekarang.

Tanah Melayu telah didatangi pedagang dari Arab, India dan China sejak sebelum masehi. Seorang pengembara China menyebutkan bahwa ketika kedatangannya ke Langkasuka pada tahun 200 masehi, ia mendapati negeri itu telah lama dibuka.

Pengaruh Sriwijaya


Sebelum menjadi negeri Islam, Patani (baca: Langkasuka) dikenal sebagai kerajaan Hindu Brahma. Rajanya yang terkenal adalah Bhaga Datta (515 M) yang berarti "pembawa kuasa". Ketika kerajaan Sriwijaya di nusantara berhasil menaklukkan Nakorn Sri Thamarat (sekarang Ligor di Thailand) pada 775 M dan kemudian mengembangkan kekuasaannya ke selatan (Patani), mulailah penduduk Patani meninggalkan agama Hindu dan memeluk Budha. Sebuah berhala Budha zaman Sriwijaya yang ditemui dalam gua Wad Tham di daerah Yala membuktikan pertukaran agama di atas.

Di bawah pemerintahan Sriwijaya inilah Patani mulai menapaki kemajuan, ramai dan terkenal. Hasil negeri Patani pada waktu itu banyak berupa pertanian dan perniagaan. Beberapa pengetahuan bernilai seperti teknik membajak dan berdagang diterima oleh orang Patani dari orang Jawa. Diyakini juga bahwa kerajaan Sriwijaya inilah yang membawa dan mengembangkan bahasa Melayu ke Patani.

Besarnya upeti yang diberikan setiap tahun ke kerajaan Sriwijaya menunjukkan bahwa Patani ketika itu kaya dan makmur.



Memeluk Islam

Tak diketahui bilakah Patani memeluk Islam, namun kalau dilihat kebanyakan

karya sastera sejarah dan merujuk kepada Teeuw dan Wyatt, juga W.K Che Man maka dapat diperkirakan bahwa Patani menjadi negeri Islam pada 1457 (Martinus Nijhoff, 1970).

Masuknya Patani kedalam Islam ibarat sebuah "dongeng", namun itulah adanya, seperti tertulis dalam buku-buku sejarah. Dikisahkan pada waktu itu Patani (Langkasuka) diperintah oleh raja Phya Tu Nakpa. Raja dikabarkan menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Beliau mendengar ada seorang tabib, syeikh Said, seorang Muslim, yang mampu menyembuhkan sakitnya. Tabib tersebut sanggup mengobati penyakit sang Raja asal dengan syarat jika sembuh dari sakitnya maka Raja harus memeluk Islam. Namun Raja Phya Tu Nakpa ingkar janji setelah sembuh. Akhirnya Raja sakit kembali. Kejadian ini terulang sampai tiga kali. Pada kali ketiga inilah Raja bertaubat, ia tidak akan memungkiri janjinya lagi.

Setelah Raja sembuh dari sakitnya, beliau bersama keluarga dan pembesar istana memeluk Islam. Raja Phya Tu Nakpa berganti nama menjadi Sultan Ismail Shah. Sejak saat itu mulailah Islam berkembang dan pengaruh Hindu-Budha mulai berkurang, lemah dan akhirnya hilang dari Patani.

Raja Phya Tu Nakpa (Sultan Ismail Shah) diketahui juga sebagai pengasas negeri Patani. Beliaulah yang mengganti nama kerajaan lama menjadi Patani yang berarti "Pantai Ini". Karena beliau secara kebetulan menemukan suatu tempat yang indah dan ideal untuk dijadikan negeri di tepi pantai. Riwayat lain mengatakan Patani berasal dari kata "Pak Tani". Yaitu pemilik pondok (seorang petani garam) ditepi pantai yang ditemui oleh Raja ketika beliau bepergian mencari lokasi negeri baru. (Ibrahim Shukri, tanpa tahun)

Setelah berpindah ke Patani, Patani menjadi lebih ramai dan oleh karena lokasinya yang baik, tempat baru ini menjadi makmur dan mewah. Patani menjadi pusat daya tarik saudagar-saudagar dari timur seperti Jepang, China, Siam dan Eropa. Tercatat pada 1516 kapal dagang Portugis singgah pertama kalinya di pelabuhan Patani. Pinto, seorang saudagar dan penjelajah asal Portugis menyatakan: "Pada masa saya datang ke Patani dalam tahun itu saya telah berjumpa hampir-hampir 300 orang Portugis yang tinggal di dalam pelabuhan Patani. Selain dari Portugis didapati juga bangsa-bangsa timur seperti Siam, China dan Jepang. Orang-orang Jepang besar juga perniagaannya di pelabuhan ini."

Menaklukkan Siam

Sepeninggal Sultan Ismail Shah, putranya yaitu Sultan Muzaffar Shah, diangkat menjadi Sultan Patani. Selain meneruskan dan memajukan negerinya, Sultan Muzaffar Shah sering melakukan lawatan ke negara tetangga seperti Malaka, Siam. Namun dalam lawatan ke Siam (sekarang Thailand) beliau diperlakukan tidak selayaknya oleh Raja Siam. Raja Siam merasa lebih tinggi derajat dan kedudukannya daripada Sultan Patani. Sehingga perlakuan ini menimbulkan perasaan terhina dalam jiwa Sultan Muzaffar.

Ketika mengetahui kerajaan Siam diserang oleh Burma pada 1563, Sultan Muzaffar Shah bersama adiknya Sultan Mansyur Shah memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Siam. Dengan mengerahkan 200 kapal perang dan ribuan pasukan, Siam akhirnya jatuh ke tangan Sultan Muzaffar pada tahun itu juga.

Sayang, tak lama kemudian, Sultan Muzaffar meninggal secara mendadak di muara sungai Chao Phraya dan dimakamkan di sana. Sebelum meninggal Sultan Muzaffar mengamandatkan kekuasaan kepada adiknya, Sultan Mansyur Shah. Hal ini dilakukan karena sampai akhir hayatnya Sultan Muzaffar tidak mengetahui bahwa permaisurinya sedang hamil. Sekalipun Sultan Muzaffar mempunyai anak dari selirnya (Pengiran Bambang), namun dalam tradisi pewarisan tahta di kerajaan Melayu tidak mengenal calon Raja dari anak selir. Sehingga diangkatlah adiknya (Sultan Mansyur Shah) menjadi Sultan Patani sampai akhir hayatnya (1564-1572).

Sebelum meninggal, Sultan Mansyur Shah telah berwasiat agar anak saudaranya -- anak Sultan Muzaffar Shah -- yaitu Patik Siam (10 th), pewaris sah kesultanan, diangkat menggantikan dirinya. Namun pengangkatan ini menimbulkan kebencian dan kedengkian dari Pangiran Bambang (anak Raja dari selir). Para ahli sejarah mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan titik awal perselisihan dan perebutan kekuasaan dalam istana. Antara tahun 1573-1584 merupakan tahun-tahun penuh gejolak bagi kesultanan Patani. Tercatat dua kali terjadi perebutan kekuasaan disertai pembunuhan yang semuanya melibatkan anak-anak dari selir (anak Raja yang bukan dari permaisuri).

Kejayaan dan Keruntuhan

Patani mencapai zaman keemasannya ketika diperintah oleh empat orang Ratu yaitu Ratu Hijau (1584-1616), Ratu Biru (1616-1624), Ratu Ungu (1624-1635) dan Ratu Kuning (1635-1651).

Patani pada zaman Ratu-ratu sangat makmur dan kaya. Kekuasaannya meluas hingga ke Kelantan dan Trengganu sehingga terkenal dengan sebutan Negeri Patani Besar. Kecuali Johor, tidak ada negeri lain di belahan timur Semenanjung Melayu yang memiliki kemakmuran dan kekuatan sehebat Patani kala itu.

Kekuatan negeri Patani tergambar dari kemampuannya mematahkan empat kali serangan kerajaan Siam pada 1603, 1632, 1634 dan 1638. Patani memiliki 3 buah meriam besar yang sangat masyhur yaitu Seri Negara, Seri Patani dan Mahalela. Mampu mengerahkan 180.000 pasukan siap tempur dan diperkuat oleh sebuah benteng yang tak kalah terkenalnya yakni Benteng Raja Biru.

Sayang, masa kejayaan ini hanya bertahan 67 tahun. Ketika Ratu Kuning meninggal pada 1651, Patani mengalami proses kemerosotan secara politik, militer dan ekonomi. Patani hanya mencatat kemajuan ketika dipimpin oleh Raja Sakti I dan Raja Bahar yang mampu menyatukan Senggora (Songkla) dan Pethalung.

Pada akhir abad ke-17 ini, Patani mulai kehilangan era keemasannya. Tidak adanya peperangan dengan Siam, yang merupakan musuh tradisi bersama, sampai menjelang kejatuhannya (hampir satu abad) menyebabkan negeri Patani Besar yang tadinya bersatu (meliputi Kelantan, Trengganu, Patani Awal, Senggora dan Pethalung), perlahan-lahan mulai memisahkan diri. Perang yang terakhir yang melibatkan Patani - Siam terjadi pada 1638. Sejak tahun itu tidak ada lagi peperangan di antara kedua negara.

Kekuatan politik dan daya tarik pelabuhannya sebagai pusat dagang utama juga semakin redup, seiring dengan makin banyaknya pusat-pusat dagang yang baru seperti Johor, Malaka, Aceh, Banten dan Batavia (Jakarta).

Sebagai negara perairan, ekonomi Patani sangat tergantung pada perniagaan. Kemerosotannya pada bidang ini telah menyebabkan barometer ekonomi Patani anjlok. Maka boleh dikata, sejak awal abad ke-18, pelabuhan Patani hanya sebagai tempat persinggahan saja bukan pusat dagang dan bisnis lagi. Ditambah lagi faktor ketidakstabilan politik, perpecahan wilayah dan krisis pucuk pimpinan, maka lengkaplah Patani menjadi "Orang Sakit di Semenanjung Melayu".

Malang bagi Patani, karena hampir bersamaan dengan kemerosotan ini, Siam, di bawah pimpinan Panglima Taksin bangkit kembali dan berhasil mengusir Burma dari seluruh negeri. Sehingga ketika Patani lengah dan lemah, Siam berhasil menaklukkannya pada 1785. Maka mulai tahun inilah, Patani berada dalam cengkeraman Siam. Bahkan pada 1909, lewat Perjanjian Bangkok antara Inggeris-Siam, Patani akhirnya terserap menjadi wilayah "resmi" Siam yang kemudian merubah namanya menjadi Thailand sampai sekarang ini.

Sumber:
http://www.geocities.com/prawat_patani/patanilupa_malay.htm

p/s: Keturunanku ibu aku berasal dari tanah ini, Senggora dan Narathiwat (Nara) Dari Tanah yang pernah menjadi kegemilangan Islam. Semoga Allah membangkitkan kembali Islam di tanah ini. InsyaAllah...

Thursday, October 7, 2010

Jemaah Ini Tiada Bernama...

“ Syeikh, I have a question regarding the unity of this ummah. When we talk about the unity and oneness of this precious ummah, it seems that this three jama’ah (jama’at-ut-tabligh, ikhwan muslimin and hizbut tahrir) try to make this ummah really hard to unite as one ummah. What is your opinion about this kind of issue?

Begitulah lebih kurang soalannya yang dikemukakan oleh seorang pakcik arab semasa satu talk di masjid. Tajuk yang diberi kepada Syeikh itu adalah berkenaan bagaimana membentuk kesatuan dan perpaduan ummah. Talk yang diberi itu adalah task kepada seorang calon imam baru di masjid kami. Tidak dapat tidak dia harus menjawab. Aku tersenyum di satu sudut masjid. Tiada langsung perasaan marah atau tersinggung hadir dalam hati disebabkan kata-kata pakcik tersebut. Lagipun aku kenal baik dengan pakcik itu. Dia selalu duduk dan mendengar apabila jama’ah beriktikaf di masjid kami. Dan yang paling penting, aku bukan ahli “Jama’ah tabligh”.

Syeikh menjawab dengan jawapan yang sederhana. Tidak mahu mengambil risiko untuk mengutuk mana-mana jama’ah. Dan aku rasakan itu jawapan yang baik, dan memuaskan soalan yang ditanya. Tidak memihak kepada mana-mana pihak, dan tidak mengutuk mana-mana pihak.

Jemaah ini tiada bernama. Dan ini bukan satu organisasi. Tidak berlogo,Ini adalah jamaah muslimin. Atau jemaah orang Islam keseluruhannya. Tidak pernah sekalipun elders dan ulama dalam usaha ini memberi nama kepada jemaah ini. Semasa ijtima’ di York, Pennsylvania, seorang graduan syariah dari Al-Azhar As-Syariff ikut serta ke ijtima’. Dia sedang membuat kursus bahasa Inggeris di university di tempat aku dan selepas itu akan melanjutkan Masternya dalam Islamic Studies di sebuah university di California. Seperti ijtima’-ijtima’ lain,ramai orang Islam yang hadir. Aku cuba bertanya kepadanya, apa pendapatnya tentang usaha yang mulia ini. Dia menjawab.

“ If this gathering is only for jama’ah-ut-tabligh, I will not follow you and come here today, but this gathering is for all muslims, not only for those group called “jama’ah-ut-tabligh”.

Aku tersenyum. Alhamdulillah, Allah telah memberi kefahaman padanya. Aku berasa lega. Ini adalah jama’ah orang Islam., dan Islam itu ibarat satu anggota badan. Perpecahan dalam ummat islam adalah satu benda yang sangat bahaya dan sangat besar. Maulana Yusuf Al-kandahlawi rah. Amat menegaskan tentang perpaduan ummah.Dalam ucapan terakhir Maulana Yusuf rah. sebelum beliau meninggal, beliau amat menekankan sekali tentang perpaduan ummah. Boleh rujuk kat sini gist bayan Maulana Yusuf " Call Muslims To Become An Ummah "

Alhamdulillah, berkat usaha yang mulia ini, umat Islam yang dahulunya hidup berpuak-puak dan mementingkan semangat kebangsaan mula bersatu atas nama Islam. Tidak kira bangsa Melayu, Pakistan, India, Arab, Parsi, Amerika dll, mereka akan duduk bersama untuk berfikir bagaimana setiap manusia yang hidup di muka bumi pada hari ini hingga hari kiamat dapat memasuki syurga dan dapat menghindarkan diri daripada api neraka. Boleh dikatakan di setiap negara di seluruh dunia mempunyai markaz. Alhamdulillah. Jemaah telah bergerak di seluruh dunia hinggakan di kutub utara ataupun di gurun.

Jadi untuk ini kita hendaklah korbankan masa, harta dan tenaga kita untuk agama. Kita cuba jadikan setiap ahli keluarga kita ada fikir agama dan bersedia berkorban demi agama.InsyaAllah semua sedia bagi azam!

Ya Allah, matikan aku di jalanMu...

The Wayfarer

Kembali...

Assalamualaikum...

Dah lama blog ini tidak bergerak. Senyap. Sama dengan tuannya. Banyak yang ingin dikongsi. InsyaAllah selepas ini blog ini akan bergerak kembali...Doakan...

The wayfarer...

Sunday, August 22, 2010

Madhab Shafi'i Position on Meat of People of the Book (Ahl al-Kitab) in the West



Answered by Shaykh Hamza Karamali, SunniPath Academy Teacher

Question

Could you please explain to me the position of the Shafi'i madhhab on eating the meat of those who call themselves Christians, in the West, for example, Mcdonalds? Is it halal to eat this type of meat?

Answer:

In the Name of Allah, Most Merciful and Compassionate

It is not permissible to eat meat unless it fulfills the conditions of a valid Islamic slaughter. Meat that hasn't been Islamically slaughtered is called "carrion" (Ar. maytah) and Allah Most High clearly prohibits the consumption of carrion in many verses, such as "Prohibited for you are: carrion, blood, ..." (5:3).

The meat that is sold in supermarkets and restaurants in countries with small Muslim populations, such as the United States, Canada, the United Kingdom, and other countries, does not generally meet the conditions of a valid Islamic slaughter and is not permissible to eat.

Some Muslims argue that the Shafi`i school permits eating such meat. This is a mistake. The meat that is prevalently available in such lands is not halal and impermissible to eat even according to the Shafi`i school.

The Muslims who mistakenly ascribe this position to the Shafi`i school argue that:
(1) since the Shafi`i school does not require the slaughterer to recite the name of
Allah while slaughtering, and
(2) since the Quran permits us to eat the meat of Christians, the meat found in
supermarkets and restaurants is permissible to consume. This reasoning is
incorrect on both of its premises.

The first premise is a true premise but makes a number of incorrect assumptions. It is, in fact, true that reciting the name of Allah while slaughtering is not a requirement in the Shafi`i school. However, the Shafi`i school--like other schools--makes other stipulations regarding a valid slaughter that are generally not met in non-Muslim countries. For example, the slaughter is only valid if the windpipe and gullet of the animal is severed with a sharp instrument. Killing the animal through electrocution or a through a shot to the head violates this condition and the resulting dead animal is not permissible to eat at all. This is, in fact, how most meat is slaughtered in non-Muslim countries.

The second premise also does not lend credence to the argument because according to the Shafi`is, the meat validly slaughtered by Christians (i.e. by severing the windpipe and gullet with a sharp instrument) is only permissible to eat if the Christians meet certain stringent conditions. The vast majority of Christians alive today don't meet these stringent conditions and their slaughtered meat is not permissible to eat in the Shafi`i school. [1]

So, if anything, the Shafi`i school is even stricter than other schools when it comes to the permissibility of eating meat that is slaughtered by the People of the Book.

And Allah Most High knows best.

[1] The Shafi`is stipulate that the Christian whose slaughtered meat is permissible to eat is someone who has an uninterrupted Christian lineage all the way back to pre-Islamic times. If the Christian is of non-Israelite descent, then this needs to be positively established (virtually impossible in our times). If the Christian is of Israelite descent, then the conditions are less stringent.

Reference: Hashiyat al-Jamal `ala Fath al-Wahhab

Friday, May 7, 2010

PENGAJARAN AL-BANNA DALAM MASALAH KHILAFIYYAH


Islam itu adalah satu, maka satukanlah hatimu dengan hatiku

Ikutilah satu kisah yang sangat menyentuh jiwa ini. Inilah sikap yang perlu ada pada setiap muslim. Berlemah-lembutlah antara satu sama lain. Usahlah berbalah tentang masalah-masalah furu' yang sudah lama diperdebatkan. Masih terlalu banyak perkara yang yang terlebih utama dalam Islam. Ummat Islam sudah mula meninggalkan ajaran Islam, keyakinan umat Islam akan pertolongan Allah sudah hilang, mengapa tidak kita fokuskan terhadap masalah-masalah ini?

Andainya nukilan aku kali ini mengundang marah atau benci, harap kita semua dapat berlapang dada, memaafkan satu sama lain. Aku hanhyalah insan faqir yang tidak punya apa2. Insan yang tidak tahu apa kesudahan hidupnya, samaada baik atau buruk. Bukan ulama, bukan alim, apatah lagi fuqaha.Ikutilah kisah ini dengan hati yang terbuka...

Al-Qaradawi ada menukilkan satu kisah yang pernah berlaku kepada al-Syahid Imam
Hasan al-Banna, pengasas gerakan Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ia merupakan kisah
yang cukup baik yang perlu dihayati oleh semua pendakwah yang mengakui mahu
memperjuangkan Islam terutama dalam memastikan kesatuan umat Islam.
Al-Banna mencatatkan dalam Muzakkirat nya tentang kisah beliau menyampaikan
kuliah agama ketika beliau masih berumur dua puluhan tahun. Beliau menyampaikan
kuliah tersebut antara waktu Maghrib dan Isyak di satu sudut di sebuah masjid kecil.
Setelah sekian waktu, kuliah tersebut telah mendapat perhatian dan para hadirin
yang hadir telah bertambah. Termasuk juga yang hadir adalah di kalangan mereka
yang menyimpan sikap dan pendirian lama dalam masalah khilaf dan suka
membangkitkan api perdebatan.

Sehingga pada suatu malam, al-Banna merasakan terdapat satu kelainan terhadap
hadirin yang hadir. Seolah-olah terdapat perbezaan kelompok di kalangan para
pendengar termasuk tempat duduk mereka. Pada malam tersebut, belum sempat al-
Banna hendaklah memulakan kuliahnya, tiba-tiba beliau telah diajukan satu soalan.
“Apakah pandangan ustaz tentang masalah tawassul? Maka al-Banna menjawab:
“Wahai saudaraku, aku berpandangan engkau bukan bermaksud mahu bertanya
tentang masalah ini sahaja, tetapi engkau juga mahu bertanya tentang selawat
selepas azan, membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat, lafaz siyadah Rasul dalam
tasyahhud, bagaimana kedudukan ibu bapa Nabi SAW di akhirat, sampai atau tidak
bacaan al-Qur’an kepada si mati, adakah perkumpulan-perkumpulan yang dibina
oleh ahli tariqat itu maksiat atau qurbah”, dan pelbagai masalah lagi.
Al-Banna sengaja menyenaraikan semua perkara-perkara khilaf tersebut yang telah
menyalakan api fitnah sejak sekian lama sehingga membuatkan lelaki penyoal itu
tersentak. Lalu lelaki itu menjawab: “Ya, aku mahukan jawapan atas kesemua soalan
itu!”

Lalu al-Banna menjawab: “Wahai saudaraku, aku bukanlah seorang alim, tetapi aku
seorang guru bandar yang menghafaz sesetengah ayat al-Qur’an dan sesetengah
hadith Nabi dan mengetahui beberapa hukum agama setelah merujuk kepada kitab-kitab.

Lalu aku menawarkan diri untuk mengajarkan ilmu itu kepada orang ramai.
Maka sekiranya engkau bertanya kepadaku soalan yang terkeluar daripada apa yang
aku tahu maka engkau telah menyukarkan aku, sedangkan barangsiapa yang
mengatakan aku tidak tahu dia juga telah berfatwa. Sekiranya engkau merasa puas
dengan apa yang aku sampaikan, dan melihat padanya ada kebaikan, maka
dengarilah ia. Sekiranya engkau ingin mengetahui lebih lanjut maka bertanyalah
kepada para ulama yang pakar selainku. Mereka mampu memberi fatwa terhadap
apa yang kamu mahu. Adapun aku, maka inilah kadar ilmuku, sesungguhnya Allah
tidak memberatkan ke atas seseorang melainkan apa yang diusahakan”.
Itulah jawapan al-Banna kepada lelaki tersebut dan lelaki itu pada hakikatnya tidak
mendapat apa-apa jawapan daripada al-Banna. Namun dengan ucapan al-Banna itu
para hadirin atau kebanyakan mereka merasa berpuas hati. Lalu dengan
kesempatan yang ada al-Banna meneruskan ucapannya dengan berkata:

“Wahai saudara-saudaraku, aku amat mengetahui bahawa saudara yang bertanya
tadi, termasuk juga ramai di kalangan kalian, tidak bermaksud daripada soalan
seumpama itu melainkan hanya ingin mengetahui, daripada kumpulan manakah
pengajar baru ini? Adakah daripada kumpulan Syeikh Musa atau daripada kumpulan
Syeikh Abdul Sami’?! Sesungguhnya pengetahuan ini tidak memberikan apa-apa
manfaat kepada kamu, sedangkan kamu telah menghabiskan masa dalam keadaan
fitnah selama lapan tahun dan cukuplah sekadar itu. Kesemua masalah-masalah itu
telah diperselisihkan oleh umat Islam sejak ratusan tahun dan mereka masih terus
berselisih pendapat sehingga ke hari ini, namun Allah SWT redha kepada kita untuk
berkasih sayang dan bersatu padu serta membenci untuk kita berselisihan dan
berpecah-belah. Maka aku ingin mengajak kamu semua berjanji dengan Allah SWT
untuk meninggalkan semua perkara-perkara ini sekarang, dan bersungguh-sungguh
untuk mempelajari asas-asas agama dan kaedah-kaedahnya, beramal dengan
akhlaknya, kelebihan-kelebihannya yang umum dan petunjuk-petunjuknya yang
disepakati. Dan mendirikan segala kewajipan dan sunat serta meninggalkan sikap
memberat-beratkan dan terlalu rigid supaya hati menjadi suci. Dan supaya menjadi
tujuan kita semua hanya untuk mengetahui kebenaran, bukan hanya kerana sekadar
mahu memenangkan satu pandangan. Ketika itu, kita mempelajari kesemua ini
bersama dalam keadaan kasih sayang, kepercayaan, kesatuan dan keikhlasan. Aku
berharap kamu terimalah pandanganku ini dan agar ia menjadi perjanjian sesama
kita untuk berbuat demikian”

Friday, February 12, 2010

Nasihat Indah Buat Rakan Seperjuangan


Pesan Maulana Muhammad In’amul Hasan Rah. A :


1. Sibukkan dirimu dalam usaha agama; jika tidak kamu pun akan sibuk tapi bukan
dalam agama.
2. Gunakan waktumu untuk agama; jika tidak waktu pun akan habis tapi bukan untuk
agama.
3. Gunakan hartamu untuk agama; jika tidak harta pun akan habis tapi bukan utnuk
agama.
4. Mati lah kamu dalam agama; jika tidak kamu pun akan mati tapi bukan untuk agama.

Nasihat dari Maulana Muhammad Umar Palapuri Rah. A :

Selalulah berusaha untuk menjaga agar hati tetap bersih dalam melihat keadaan umat Islam. Tanpa kebersihan hati akan timbul perasaan benci di dalam hati sehingga akan menghalangi proses Ishlah diri. Hadapilah orang-orang yang berbuat maksiat dan dzalim dengan lemah lembut dan kasih sayang.

Nasihat Maulana Said Ahmad Khan :


Dalam mejalankan usaha dakwah jangan merendahkan siapa saja, meskipun orang tersebut buta huruf atau miskin. Jangan mengutamakan orang kaya atas orang miskin. Bahkan hendaknya lebih bergairah dan bergembira ketika menghadapi orang miskin.

Nashat Maulana Muhammad Ilyas Rah. A :

Cara menyelesaikan berbagai masalah, baik masalah pribadi, masalah umat, maupun masalah politik adalah dengan Dakwah dan Usaha Agama, berdasarkan satu fikir. Cara-cara yang ditempuh di luar usaha agama nampaknya saja dapat memberikan hasil dan keuntungan dengan segera, sekalipun hanya dengan pengorbanan yang sedikit. Dalam pada itu, usaha agama menghendaki pengorbanan yang besar sedangkan keuntungannya tidak segera dapat dilihat. Itulah sebabnya mengapa orang-orang menjauh dari usaha agama. Demikian pula orang-orang yang terlalu tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan ketika melihat orang-orang yang “tidak produktif” seperti kita atau ketika melihat asas usaha dakwah kita. Namun ternyata mereka tidak mampu melihat hakikatnya, yakni tidak mampu memahami hakikat syariah.

Nasihat Maulana Abdul Wahhab (Bay Wahhab) :


Sesungguhnya kitabukanlah orang Pakistan, India, Indonesia, Amerika, atau orang dunia, tapi kita adalah orang akhiratyang sedang berada di dunia. Bapak kita Nabi Adam a.s. adalah berasal dari surga, maka kampung kita yang sesungguhnya ada di surga. Oleh karena itu, setiap diri kita harus kembali ke surga.

Friday, January 8, 2010

Sedikit Coretan Perjalanan



“ Assalamualaikum…Are you from Malaysia?” Seorang lelaki Arab bertanya pada aku dan Ramli yang sedang asyik berbual di satu sudut di dalam masjid.

“ Yes we are." Jawabku ringkas. Susuk tubuhnya tegap. Berjubah biru dan berjambang. Bibirnya manis mengukir senyum. Aku lupa namanya. Tapi dia adalah local brother bagi Masjid An-Nur di uptown Chicago. Mungkin juga salah seorang Syura di markaz Chicago. Secara peribadi, aku memang suka berada di markaz ini. Amat jarang ahli majlis syura terdiri daripada bangsa Arab. Kecuali di markaz di negara Arab. Hampir kesemua syura di sini terdiri daripada bangsa Arab. Bangsa di mana mengalir darah keturunan Sahabah r.anhum. Bangsa yang mudah leka, tapi mereka ini juga bagaikan singa apabila mereka sedar akan tanggungjawab mereka. Jemaah kami amat bertuah kerana pada masa itu diadakan ijtima’ di markaz. Tapi bukanlah ijtima’ ini bukanlah ijtima’ yang besar. Hanya ijtima’ tertutup dan diadakan di dalam masjid.

Setelah kami taa’ruf buat beberapa ketika, dia mula mengatur bicara. Maksudku mengatur apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Memang ini adab dalam dakwah. Khusunya dakwah umumi. Taa’ruf harus didahului. Tapi jangan sampai taa’ruf memonopoli seluruh percakapan hinggakan tujuan dakwah itu hilang.

“ I like Malaysian students very much. When they were here, the efforts of dakwah were very strong. But after they went back to Malaysia, this efforts getting weaker because they only emphasize and convey dakwah to students; they forgot to give dakwah to the local people.”
“ This efforts of Dakwah is not only for Malaysian. Although you are from Malaysia, but your fikir must be global. Yes, we are doing dakwah here, but our main goal is all human in the world. We must have a concern that how every single person in this dunia can die with Kalimah Lailahaillah, Muhammadurrasul Allah. Be like a bee. Small but when it stings, it can cause death.”
Katanya bersungguh-sungguh.

Kata-katanya benar. Tanggungjawab dakwah bukan hanya untuk sesetengah orang. Dakwah in untuk semua. Dan mereka telah melakukannya.

Di Masjid An Nur atau lebih dikenali sebagai markaz Chicago, jaulah diadakan setiap hari. Syeikh Dawud, seorang arab dari Palestin memang dikenali di sini. Usianya sudah mencecah 67 tahun, tapi semasa jaulah, dia masih memilih untuk berjalan daripada menaiki kereta walaupun salji turun dan suhu hampir mencecah -10 darjah celcius. Dia mahu merasai kepayahan dan kesusahan Nabi s.a.w untuk bertemu dengan manusia demi mengajak manusia kepada Allah…

Dua hari berada di markaz, jemaah kami dihantar ke Lomburg dan Addison. Kawasan suburban di sekitar metropolis Chicago. Alhamdulillah, banyak manfaat yang dapat dikutip semasa berada di sana. Kedua-dua kawasan ini merupakan kawasan majoriti muslim. Kedai halal memang senang dijumpai. Anak-anak dididik menjadi hafiz sejak kecil. Dan Alhamdulillah, mereka berada dalam lingkungan dakwah.

Itu saje buat kali ni…dah malas nak taip walaupun banyak lagi yang nak diceritakan..

Keredhaan
“Ini adalah jalan pilihanku”

Monday, December 14, 2009

Ilmu Menjadikan Kita Takut Kepada Allah Swt

Pada hari ini, kita melihat rata-rata umat Islam di negara ini sudah mula berjinak-jinak dengan majlis-majlis ilmu dan ulama. Di masjid-masjid dan surau-surau majlis-majlis pengajian ilmu semakin rancak diadakan.

Ia mendapat sambutan yang memberangsangkan dari segenap lapisan masyarakat yang dahagakan ilmu dan pentarbiahan hatta terdapat masjid yang mengadakan majlis pengajian pada setiap malam. Ini suatu perkembangan yang baik kepada peningkatan kualiti umat Islam di negara ini dan agama Islam itu sendiri.

Persoalannya, apakah ilmu yang mereka perolehi ini benar-benar memberikan manfaat dan kesan ke dalam diri mereka?. Ketahuilah, bahawa sebaik-baik ilmu ialah ilmu yang menjelmakan perasaan takut kepada Allah swt. Iaitu, takut yang disertai perasaan membesarkan Allah dan menumbuhkan amal. Allah swt telah memuji para ulama melalui firman-Nya:
Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. (Al-Faatir: 28)

Inilah ilmu yang paling bermanfaat kerana ilmulah yang memandu kita ke jalan akhirat. Kalam hikmah ini diungkapkan oleh Sheikh Ibnu Atoillah al Sakandari r.a dalam Hikamnya yang bertajuk al Hikam al Atoiyyah.

Terbukti, kalam hikmahnya ini telah mampu melunakkan hati yang keras, menenangkan jiwa yang resah, mengekang nafsu yang rakus dan mengajak manusia menyelami hikmah-hikmah di sebalik kejadian Allah swt. Semoga kita mendapat manfaat daripadanya.

Adapun orang alim yang tidak mempunyai perasaan takut kepada Allah bukanlah orang alim yang sebenarnya. Lebih-lebih lagi, orang alim yang keinginannya untuk mendapatkan kemewahan dunia, kemegahan dan bersikap takbur dengan ilmunya. Ilmu sebegini hanya akan menjadi hujah ke atasnya di akhirat kelak dan sebab yang akan mengundang bala dan akibat yang buruk kepadanya.

Umar ibn al Khattab r.a pernah berkata, "Perkara yang paling aku takuti berlaku terhadap umat ini ialah munculnya orang yang alim pada lisan tetapi jahil pada hati". Ini bukanlah ciri-ciri pewaris para nabi kerana pewaris para nabi memiliki sifat zuhud terhadap dunia, berminat terhadap akhirat, ikhlas menyampaikan amanah ilmu dan bertakwa.

Orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat, tidak memiliki sifat bongkak atau takbur, tidak suka mencaci orang lain, berlapang dada, mudah diajak berbincang dan tidak cepat melatah. Sahl ibn Abdullah r.a pernah berkata: "Janganlah kalian memutuskan satu urusan dari urusan-urusan dunia dan agama kecuali setelah berbincang dengan ulama. Maka kesudahannya akan dipuji di sisi Allah swt".

Abu Muhammad r.a pernah ditanya: "Wahai Abu Muhammad! Siapakah ulama?" Jawabnya: "Orang-orang yang mengutamakan akhirat daripada dunia dan mengutamakan Allah daripada diri mereka sendiri". Saidina Umar ibn al Khattab r.a pernah mewasiatkan: "Berbincanglah mengenai urusanmu dengan orang-orang yang takutkan Allah".

Al Wasiti r.a berkata: "Manusia yang paling pengasih ialah ulama, kerana perasaan takut mereka kepada Allah dan kebimbangan mereka terhadap apa yang diajar oleh Allah swt". Banyak ayat dan hadis yang menyebut tentang kemuliaan ilmu atau ulama. Rasulullah saw pernah bersabda: "Penuntut ilmu dijamin oleh Allah rezekinya".

Ketahuilah, bahawa ilmu yang diulang-ulang sebutannya di dalam al-Quran dan hadis Nabi saw ialah ilmu yang bermanfaat yang disertai oleh perasaan takut kepada Allah. Bahkan, ilmu yang bermanfaat juga ialah ilmu yang mampu menguasai nafsu dan mengekang syahwat. Disebut juga, ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang membantu pemiliknya mentaati Allah, dan berdiri di atas landasan agama Allah.

Sebahagian Salaf berkata: "Sesiapa yang bertambah ilmunya, maka bertambah jugalah kekhusyukannya (kerendahan hatinya)". Seorang lelaki bertanya kepada Sheikh Junaid al Baghdadi r.a: "Apakah ilmu yang paling berguna?" Jawabnya, "Ilmu yang menunjukkan kamu kepada Allah swt dan menjauhkan kamu daripada menurut hawa nafsumu".

Beliau berkata lagi: "Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang menunjukkan pemiliknya kepada sifat tawaduk, sentiasa bermujahadah, menjaga hati, menjaga anggota zahir dari melakukan maksiat, takut kepada Allah, berpaling daripada dunia dan penuntut dunia, menjauhi orang-orang yang mengasihi dunia, meninggalkan apa yang ada di dunia kepada ahli dunia, suka memberi nasihat kepada makhluk, baik perilaku terhadap makhluk, suka duduk bersama golongan fuqara, memuliakan kekasih-kekasih Allah dan menghadapkan diri kepada apa yang mereka utamakan.

"Apabila orang alim yang mencintai dunia dan ahlinya, dan mengumpulkan dunia melebihi daripada keperluannya, maka dia akan lalai daripada akhirat dan ketaatan kepada Allah mengikut kadar kecintaannya kepada dunia". Allah swt berfirman (maksudnya):

Mereka hanya mengetahui perkara yang zahir nyata dari kehidupan dunia sahaja, dan mereka tidak pernah ingat hendak mengambil tahu tentang hari akhirat. (Al-Rum: 7)

Rasulullah saw bersabda: "Siapa yang kasihkan dunia, maka dia telah membahayakan akhiratnya dan siapa yang kasihkan akhirat maka dia telah membahayakan dunianya. Justeru ingatlah, utamakanlah suatu yang kekal (akhirat) daripada yang akan rosak binasa (dunia)". (HR Imam Ahmad dan al Hakim)

Fudhail ibn 'Iyadh berkata: "Orang alim ialah doktor agama dan cinta dunia ialah penyakit agama. Apabila doktor telah memasukkan atau mengheret penyakit ke dalam dirinya, maka bilakah masanya dia boleh mengubati orang lain". Sesiapa yang ilmunya memandunya kepada menuntut dunia, ketinggian di dalamnya, jawatan dan pandangan makhluk, maka ia adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Bahkan, dia tertipu dengan ilmunya.

Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada rosaknya orang alim dengan ilmunya yang diharapkan dapat menyelamatkannya. Kami memohon dengan Allah daripadanya. Ilmu yang bermanfaat juga ialah ilmu yang diamalkan. Ulama mengumpamakan orang yang menghabiskan banyak waktu menuntut ilmu, duduk selama 40 atau 50 tahun belajar tanpa beramal, seperti orang yang asyik bersuci selama waktu itu dan memperbaharui wuduknya tetapi tidak solat walau satu rakaat.

Ini kerana maksud atau tujuan suatu ilmu ialah beramal dengannya sebagaimana tujuan berwuduk adalah untuk melakukan solat. Berkata sebahagian ulama: "Kalaulah ilmu tanpa takwa itu penentu suatu kemuliaan, nescaya semulia-mulia makhluk Allah ialah iblis".

Oleh: PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN
sumber: Serikasih.blogspot.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...