Sunday, February 27, 2011

Harga Sebuah Sunnah 2

Di Malaysia


Seorang lelaki muda berjalan menuju ke surau. Pakaiannya putih. Seluarnya putih. Serbannya putih. Janggutnya hitam pekat. Lagaknya seperti seorang pahlawan Islam zaman terawal. Itulah pakaian hariannya ke mana sekalipun. Allahuakbar. Mukanya bersih. Tapi siapa sangka, dia memandu kereta Mers. Dan aku melihat dia telah menggunakan keretanya untuk jalan Allah. Bukan untuk kemegahan. Bukan untuk kemewahan.

Manusia sekeliling memandangnya pelik. Ada yang sayang. Ada yang meluat. Memang agak pelik bagi manusia. Tapi mulia di sisi Allah s.w.t dan RasulNya. Tapi tiada siapa yang menghalang lelaki itu daripada memakai pakaian "kesukaannya".

Di Burma (Myanmar)


Seorang lelaki belia berjalan kaki di kem pelarian. Agamanya tinggi. Semangatnya tinggi. Dia mahu memakai pakaian kesukaannya. Tapi apakan daya, Burma diperintah junta tentera. Memakai pakaian "kesukaannya" di  luar rumah bermaksud menempah maut. Tentera akan menembak sesiapa yang berpakain seperti itu. Itu harga yang harus dibayar di Burma. Dan harga itu ialah mati!


Di United States


Anak-anak kecil leka bermain. Berkejar-kejaran sesama mereka. Tidak takut walaupun mereka tinggal di kawasan "black spot". Kawasan yang kadar jenayahnya agak tinggi. Namun peliknya tiada siapa mengganggu mereka. Apa rahsianya?

Aku pernah bertanya pada seorang kawanku. Apa rahsianya?

" Entahlah. Tapi setahu aku hampir 99% lelaki Islam yang tinggal di kawasan ini solat berjemaah di masjid. Mungkin sebab tu kot. Allah akan jaga sesiapa yang jaga agamanya."

Aku yakin. Tidak ada sebab lain yang lebih kuat daripada itu. Kekuatan Islam bermula dari situ.

Di Boston, seorang lelaki African American gigih berjalan. Berpakaian full sunnah. Berjalan melewati universiti-universiti terkemuka dunia. MIT, Boston University dan Harvard University. Tujuannya bukan untuk belajar, dan bukan juga untuk mengajar. Tapi tujuannya untuk mencari pelajar-pelajar Islam di Universiti. Mengajak mereka kearah kejayaan yang tida penghujungnya, yang tiada terbayang dek kata-kata. Dia gigih berjalan. Tiada keluhan di wajahnya. Yang ada hanya senyuman manis apabila bertemu sesama Islam.

Itulah perniagaan yang menguntungkan. Yang akan membantu akhiratnya.

Semoga Allah mengurniakan aku kekuatan untuk mengamalkan sunnah Rasulullah s.a.w. Dan semoga Allah mengurniakan kita semua kekuatan ini. Ameen.

p/s: Semua kisah yang dinyatakan adalah berdasarkan kisah benar dan bukannya rekaan semata-mata.


Thursday, February 17, 2011

Kerana Wanita Itu Indah-Bahagian 2

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullah.

Di sini disertakan sambungan posting yang sebelumnya tentang dalil-dalil wajib menutup aurat serta perbahasannya secara ringkas. Semua artikel ini diambil secara terus daripada buku "Risalah Untuk Wanita Mukminah" karangan Syaikh Dr. Sa'id Ramadhan Al-Buti, seorang ulama besar Syria bermazhab Syafi'i yang masih hidup sekarang. Buku ini ditulis dalam bahasa Indonesia. Semoga Allah memberkati beliau. Sila rujuk ulama' untuk penjelasan lanjut kerana aku sudah nyata terang lagi bersuluh bukanlah ulama'. Aku hanya ingin berkongsi dan menyampaikan dan tidak mengetahui lebih daripada ini. Dan aku tidak mahu dipertanggungjawabkan di hari akhirat kelak. 





Ketetapan para Ulama tentang Wajah Wanita

Para ulama berselisih jadi dua golongan dalam menetapkan hukum wajah itu sendiri.Golongan pertama, menafsirkan dandanan yang biasa terlihat dalam ayat tersebut dengan perhiasan busana, iaitu apa yang mungkin terlihat, misalnya seperti cincin dan sebagainya. Maka menurut mereka, wajah dan kedua telapak
tangan tetap termasuk anggota yang dilarang diperlihatkan, artinya wanita itu tidak dibenarkan membuk meskipun wajah dan kedua telapak tangannya di depan orang-orang yang dikecualikan Allah itu dari macam keluarga dan orang yang berlindung kepada mereka.

Alasan golongan ini, yang terdiri dari penganut madzhab Hanbali dan Asy-
Syafi’i, berdasarkan pada dalil-dalil berikut ini. 

Dalil pertama:

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir”. (QS. Al-Ahzab: 53)

Ayat tersebut meskipun diturunkan untuk isteri-isteri Nabi, namun hukumnya tidak berlaku khusus bagi mereka, karena illatnya terdapat pada semua wanita juga. Perbedaannya adntara mereka dan kaum wanita lainnya dalam hal itu, gugur dari pertimbangan, atau dengan kata lain, hukumnya berlaku umum, meliputi semua hukum wanita melalui cara qias yang gamblang yang dinamakan pula dengan qias pertama.

Dalil kedua:

Apa yang diriwayatkan al-Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi s.a.w ada dibelakang al-Fadhal bin al-Abbas pada Yaumun Nahar (lebaran haji), pada waktu itu al-Khats amiyah sedang bertanya tentang sesuatu kepada Rasulullah, ternyata al-Fadhal memandanginya, lalu Rasulullah memegang dagu al-Fadhal dan memalingkan wajahnya dari perempuan itu. 
Lalu kata mereka, “Kalau wajah itu bukan aurat yang tidak boleh dilihat oleh seorang asing, tentulah Rasulullah tidak memalingkan wajah al-Fadhal dari wanita itu, sedang perempuan itu sendiri beralasan karena ia sedang menunaikan ihram dalam haji.

Dalil ketiga:

Apa yang diriwayatkan Muslim dan Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah dari kalian, jangan memasuki tempat wanita”, seorang Ansar bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan al-hamu?” Beliau menjawab, “Al-Hamu adalah kematian”. Al-Hamu ialah saudara laki-laki suami, atau ipar lelaki.

Kalau wanita itu secara keseluruhannya bagi orang asing bukan aurat, tentu Rasulullah tidak mengumumkan larangan masuk kepadanya bagi semuanya, karena larangan itu meliputi seluruh keadaan wanita itu, selama ia terlihat wajahnya seperti halnya kaum wanita di dalam rumahnya. Larangan itu meliputi juga saudara laki-laki suami, dilarang masuk menemui isteri saudaranya. Kalau sekiranya wajah itu bukan aurat, tentulah dikecualikan untuk memudahkan bagi para ipar lelaki menemui ipar perempuannya, selama wanita itu menutup seluruh tubuhnya minus wajah dan kedua telapak tangan.

Dalil keempat:

Apa yang dinyatakan Abdur Razaq dalam musnafnya dariUmmu Salamah katanya, “Ketika ayat hijab turun, maka wanita Ansar keluar serentak dengan jilbab mereka, sehingga kepala mereka seperti burung gagak, karena rapatnya menutup wajahnya dengan potongan bajunya. Kalau wajah mereka bukan aurat, tentulah perempuan itu tidak menutup wajahnya. Dalil kelima, apa yang dibawakan Muslim dan lain-lain dari Anas bin Malik bahawa Ummu Sulaim membuat semacam kuih dan dikirmkan kepada Nabi s.a.w, berkenaan dengan pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsy, kemudian beliau memanggil para shahabatnya, dan merekapun makan bersama-sama dan berbicara, sementara isterinya menghadapkan wajahnya ke tembok hingga mereka
pergi semua.

Hadits itu jelas sekali. Tidak bisa dikatakan, mungkin hal itu suatu hukum khusus bagi para isteri Nabi, karena perbedaan antara isteri Nabi dan kaum muslimah lainnya berkaitan dengan hijab itu, hanyalah perbezaan waktu saja. Hukum itu pada mulanya memang dikenakan kepada para isteri Nabi, kemudian diwajibkan kepada seluruh kaum muslimin.Sekiranya wajah isteri Nabi itu aurat bagi orang asing laki-laki, yang mereka itu adalah ummahatul mu’minin menurut padangan ulama, sudah tentu wajah wanita muslimah lainnya lebih dari itu.

Dalil keenam: 

Apa yang diriwayatkan ibnu Hisyam dari Ibnu Ishak, tentang sebab pertama pengusiran Yahudi Bani Qainuqa’ dari Madinah oleh Nabi s.a.w, bahawa seorang wanita Arab muslimah pergi berbelanja ke pasar perkampungan Bani Qainuqa’, kemudian ia duduk-duduk di depan toko tukang sepuh emas.Orang-orang Yahudi di dalam toko itu ingin membuka jilbab (kerudung) wanita itu supaya bisa melihat wajahnya, tetapi wanita itu menolak dengan keras. Akhirnya tukang sepuh emas itu mengikat ujung jilbab wanita itu pada sesuatu, ketika wanita itu berdiri, tertariklah jilbabnya ke belakang, sehingga terbukalah wajahnya. Lalu para laki-laki Yahudi itu tertawa beramai-ramai, sementara wanita itu berteriak-teriak, merasa kaget dan dipermalukan. Tiba-tiba seorang pemuda muslim yang ada disana melompat dan langsung membunuh tukang sepuh emas itu,… dan seterusnya.

Kalau jilbab yang diharuskan itu tidak meliputi juga seluruh wajah, apa yang mendorong wanita muslimah itu berkeras hati menutupi wajahnya? Kalau ia dipandang seorang wanita yang sangat taat pada agamanya, tentu orang-orang Yahudi itu tidak terdorong kedengkiannya untuk mempermalukan di depan
uymum dengan cara menghina seperti itu.

Hujah Golongan Kedua:

Mereka menafsirkan dandanan yang bisa terlihat “maa dhahara minha’ dalam ayat itu (QS. An-Nur: 31), dengan wajah dan kedua telapak tangan, karena keduanya dianggap hal-hal yang dzahir yang biasa terlihat, seperti yang terlihat pada waktu menunaikan shalat. Jadi dalam menentukan hukum, pertimbangan itu digunakan juga. Dalam hal ini mereka bertitik tolak dari hadits riwayat Bukhari dari Aisyah dalam bab apa yang dipakai seorang yang berihram,

“Wanita tidak dibenarkan menutup mulut dan hidungnya, menutup mukanya, jangan memakai baju terusan dengan tutup kepala dan jangan memakai za’faran”.

Larangan serupa terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Malik dalam al-Muwattha’ dari Nafi, bahwa Abdullah bin Umar pernah berkata,“Wanita yang berihram tidak boleh memakai tutup muka dan sarung tangan”. Apa arti larangan perempuan tidak boleh menutup mulut dan hidung (burqu) dan menutup muka (niqab) pada waktu berihram, kalau pemakaiannya tidak umum dalam masyarakat. Tetapi penganut tafsir ini, yang terdiri dari pengikut Imam Malik, Abu Hanifah dan sebagian dari pengikut Imam Syafi’i menetapkan suatu syarat dalam membuka wajah, bahwa hal itu boleh dilakukan selama tidak mengobarkan fitnah, baik karena dandanannya atau karena cantiknya, dan bahwa ia tidak boleh menampakkan diri ditengah-tengah orang fasik, yang menurut dugaan tidak akan menundukkan pandangannya seperti yang diperintahkan Allah, malah mereka akan terdorong mengikuti hawa nafsu dan berahinya. 

Kalau kedua syarat itu tidak terpenuhi, sebaiknya ia menutupi wajahnya untuk menghindari fitnah, mengingat terjadinya hal yang pertama, dan demi menghindarkan kemungkaran yang diakibatkan oleh hal yang kedua. Sesungguhnya menyingkirkan kemungkaran dalam situasi seperti ini, dengan mencegah orang fasik melihat kepadanya, atau melarang ia keluar dari rumah menemui semacam itu, atau dengan cara menutup wajahnya dihadapan mereka, masih lebih mudah melakukan yang terakhir diantara ketiganya itu.

Atas dasar itulah, maka semua hadits shahih yang menganjurkan wanita muslimah menutup wajahnya, yang dipergunakan oleh golongan pertama sebagai dalilnya, menunjukkan adanya keadaan takut dari fitnah, atau menandakan keinginan menjaga diri dan ketaqwaan. Jelasnya, sebagian besar isteri para shahabat dan tabiin itu, karena dorongan ingin menjaga diri dalam melaksanakan perintah Allah lalu mereka menutup wajahnya.

Sunday, February 13, 2011

Kerana Wanita Itu Indah-Bahagian 1

Tajuk post kali ni bukan menunjukkan aku suka kat semua perempuan atau mengagungkan kecantikan wanita, Wal i'yazubillah! Tapi sekadar perkongsian daripada apa yang aku baca daripada buku " Kulli Fatastin Tu'minu Billah " atau diberi judul " Risalah Untuk Wanita Mukminah " karangan Syaikh Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buti, seorang ulama besar Syria yang sangat terkenal bukan sahaja di Syria, malah di seluruh dunia Islam.



SEMUA ANGGOTA TUBUH WANITA, SELAIN WAJAH DAN KEDUA TELAPAK TANGANNYA, ADALAH AURAT

Kaum wanita di zaman jahiliyah berusaha keras ingin menampakkan keindahannya di depan kaum lelaki, namun hal itu tidak melampaui hal ehwal wanita dalam ummat-ummat yang lain. Pada waktu itu menampakkan leher, bagian atas dada, atau rambut palsu, merupakan keindahan yang sangat menonjol, yang harus senantiasa dipelihara dan ditampakkan di depan kaum lelaki. Setelah Islam datang, maka hukum syari’ah pun turun berturut-turut, termasuk hukum tentang wanita mu’minah dan busananya. Firman Allah tentang
hal ini:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59)

Firmannya lagi,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nur: 31)

Diturunkan juga perintah untuk isteri-isteri Nabi tetapi dengan cara yang berlaku umum untuk semua wanita muslimah, melalui jalan qias yang jelas atau seperti yang dinamakan ahli usul dengan istilah “tangihul manuth”,
membetulkan tempat bergantung. Firman Allah:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS. Al-Ahzab: 33)

Jelaslah, bahwa watak dari ajaran ini, seperti yang kita lihat, berlaku umum untuk semua kaum muslimah, tidak terdapat alasan sedikitpun yang membuktikan, bahwa ia khusus untuk para isteri Nabi saja. Perintahnya memang seolah-olah khusus untuk mereka, sebagai penghargaan bagi mereka dan isyarat mereka, bahwa mereka seharusnya menjadi pelopor ketaatan yang paling dulu mengindahkan ajaran itu.

Ayat ini menyatakan dengan tegas, bahwa dandanan yang biasa dilakukan oleh kaum wanita Arab pada zaman jahiliyah kini sudah dinyatakan sebagai perbuatan terlarang dan haram. Mereka diperintahkan supaya tidak memperlihatkan perhaisannya dan anggota tubuhnya didepan orang-orang asing, kecuali yang sudah biasa terlihat dan sulit untuk ditutupi.

Kita juga melihat, bagaimana hukum Ilahi itu diletakkan dalam suatu bingkai yang sangat menonjol, kerana penting dan seriusnya, sehingga disebutkan satu per satu jenis keluarga dan orang asing yang dikecualikan dari umumnya hukum itu, semacam demi semacam dan secara rinci pula, padahal al-Qur’an pada umumnya mengemukakan hukum syari’at secara ijma’, dan melepaskan uraian dan rinciannya untuk diterangkan dalam sunnah (hadith).

Oleh kerana itulah para ulama kaum muslimin semuanya sepakat tidak ada yang berselisih faham, wajib menutup seluruh tubuh wanita, selain wajah dan kedua telapak tangannya, dengan catatan wajah dan kedua telapak tangan itu tidak diberi perhiasan yang dapat menarik perhatian lelaki. Allah memerintahkan kepada wanita muslimah untuk menutupi selain yang biasa terlihat, termasuk leher, bagian diatas dada, rambut, dan lain-lain dengan nash yang tegas dan jelas. Antara ulama kaum muslimin tidak terdapat selisih paham tentang hal itu dalam berbagai zamannya, selain menyatakan haram hukumnya kepada wanita muslimah menampakkan auratnya di depan orang asing, selain orang-orang yang dikecualikan ayat itu, bagian dari tubuhnya yaitu wajah dan kedua telapak tangannya. 

Bersambung...Dalil-Dalil dan Ketetapan Ulama Tentang Wajah Wanita

Friday, February 11, 2011

Pabila Kuda Perang Syahid

Assalamualaikum..

Minggu ni banyak duit yang habis. kena beli spare parts kuda. Kuda yang aku maksudkan bukanlah kuda betul, tapi kuda yang mempunyai empat roda. Hidup kat US memang kos baiki kereta tersangat mahal. Kos labor sahaja boleh mencecah ratusan usd. Terutama kalau kereta tu used. Rosak tu dah jadi perkara biasa. Alhamdulillah, kereta kami kongsi tiga orang (Mael, Adam & Aku). Memang tak mampu nak beli kereta sorang. Saya ni kan student lagi.

Kereta ni mungkin nampak baru, tapi hakikatnya Allah yang tau..Kete ni tahun 2000 kut.
Ni la gambar kereta buruk kitorang. Walau buruk, aku harap kereta ni akan jadik saksi di depan Allah di akhirat kelak bahawa ia telah digunakan untuk kebaikan.

Tapi firman Allah s.w.t dalam surah Al-Baqarah ayat 195 telah melegakan aku.

" Belanjakanlah harta-harta berserta jiwa kamu di jalan Allah dan jangan campakkan diri kamu ke dalam kebinasaan (dengan mengelak daripada berjihad) apa sahaja yang kamu lakukan, lakukanlah ia dengan sebaiknya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang membuat pekerjaan dengan sebaik-baiknya. 

Tujuan utama beli kereta ni sebab nak gi masjid dan gunakan untuk jalan Allah. Sebab dulu kesian brother-brother kat Islamic Center asyik datang ambik aku ngan Adam gi masjid. So, kitorang bersepakat beli kereta ni dan berjanji akan gunakannya untuk kebaikan sahaja. Dan aku dah wat satu rule bahawa kereta ni tak boleh dinaiki oleh wanita kecuali mahram sahaja. Alhamdulillah, setakat aku bawak ni ok lagi.

Pontiac Grand Am 2000 (Model lama dah ni...) 

Ade kereta ni senang nak tasykil orang, nak dakwah orang. Nak ajak orang datang masjid senang. Nak gi kelas pun senang. Tapi  kalau rosak kena sabar je la. Baru dapat pahala kan?


Allah s.w.t berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 2:

" Tolong-menolonglah antara satu sama lain atas perkara-perkara kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kamu tolong-menolong atas perkara dosa dan kezaliman."


Di satu tempat lain Allah s.w.t berfirman (Surah Al-Hajj ayat 78):

" Berusahalah untuk agama Allah, seperti selayak mana ia diusahakan. Dia telah memilih kamu untuk menyampaikan risalahnya ke seluruh alam dan dia tidak menjadikan di dalam agama sedikit pun kesusahan (jadi, kerja agama adalah mudah, dan hukum-hukum Islam yang telah diberikan kepada kamu adalah bertepatan dengan agama Nabi Ibrahim, kerana itu) teguhkanlah pendirian kamu di atas agama Ibrahim a.s. Allah telah menggelarkan kamu sebelum  Al-Quran ini diturunkan, begitu juga di dalam Al-Quran ini sebagai muslim, yakni yang taat dan yang sentiasa setia. Kami memilih kamu supaya Muhammad s.a.w menjadi saksi untuk kamu dan kamu pula menjadi saksi terhadap manusia-manusia lain."  


Semoga Allah menerima pengorbanan kita semua dan menjauhkan kita daripada sifat ujub, takbur, sum'ah, riak dll. Ameen.

Kecintaan Pada Rasulullah s.a.w

Sempena bulan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w, insyaAllah sama-sama kita tgk ceramah nie...


Forum Maulidur Rasul - Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki dan Prof. Dr. Abdul Aziz Hanafi from manchuping on Vimeo.

Wednesday, February 9, 2011

Majlis-Majlis Keimanan

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang hasan daripada Anas bin Malik r.a. bahawasanya ia berkata: Abdullah Ibn Rawahah jika ia bertemu dengan salah seorang sahabat Rasululllah s.a.w. ia berkata: Mari kita beriman sesaat dengan Tuhan kita, maka pada suatu waktu dia menyatakan pernyataan tersebut pada seorang lelaki hingga membuat lelaki tadi marah, lalu ia datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata: Wahai Rasulullah s.a.w, apakah kamu perhatikan Ibn Rawahah bahawa ia membenci keimananmu dan berpaling kepada keimanan sesaat, lantas Nabi s.a.w bersabda: "Allah merahmatimu Ibn Rawahah, sesungguhnya ia menyukai majlis-majlis yang dibanggakan oleh para malaikat." At-Targhib (jilid 3, halaman 63).

Tuesday, February 8, 2011

Perantau Di Jalan Allah




Perantau musafir perjuangan
Tabahkanlah hatimu
Berjuang di rantau orang
Sedih pilu hanya engkau yang tahu


Ingatlah anak dan isteri
Janganlah menghiris hatimu
Kerinduan desa nan permai
Janganlah melemahkan semangat juangmu



Di waktu ujian badai terus melanda
engkau tetap gigih berjuang
membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji



Pastilah Islam gemilang lagi


Tapi pejuang kembara perjuangan

Ujian bukan batu penghalang
Kerana itulah syarat dalam berjuang



Oh pejuang
Di manapun ada ketenangan
Di manapun ada kebahagiaan
Bila insan kenal pada Tuhan
Kasih sayang dan pembelaan-Nya
bagi insan yang menyerahkan
Jiwa dan raga, anak dan isteri
Kepada Allah


p/s: Masa keluar jalan Allah, jangan duk rindu keluarga, anak kampung dll..Betulkan fikr, insyaAllah hidayah tersebar seluruh alam...

Sunday, February 6, 2011

Wanita Melamar Lelaki Amalan Mulia

IKAT PERTUNANGAN…tiada larangan dalam Islam jika wanita membuat lamaran terhadap lelaki yang layak menjadi pasangan hidupnya.

ADA si teruna yang lambat menyatakan hasrat menyunting pilihan hati lalu jatuh ke pihak lain. Begitu juga halnya dengan seorang wanita yang tertarik dengan lelaki yang dirasakan calon sesuai untuk dijadikan suami namun disebabkan dia hanya menunggu akhirnya turut terlepas peluang.

Apa yang berlaku itu berkait rapat dengan soal lambat menzahirkan lamaran. 
Perigi mencari timba pula merujuk kepada wanita yang berusaha mencari lelaki untuk dijadikan teman hidup.
Namun dalam masyarakat kita perkara berkenaan dianggap lari daripada adat dan budaya.
Mungkin ‘tugas’ itu sukar dan mustahil kerana ia tidak pernah dilakukan dalam masyarakat kita.
Lihat saja sejarah Siti Khadijah yang bertindak ‘berani’ melamar Nabi Muhammad s.a.w. Beliau tidak berasa rendah diri walaupun jarak usianya dengan Rasulullah agak jauh.
Bagaimana dengan wanita moden yang mahu mencontohi tindakan Siti Khadijah? Kita semua tahu, Siti Khadijah berketurunan bangsawan yang kaya-raya.
Bukan saja mempunyai perniagaan besar, tetapi beliau juga disegani kerana mempunyai kebijaksanaan dan sopan-santun tinggi.
Bagaimana jika wanita datang menyunting lelaki pilihannya dengan menggunakan orang perantaraan bagi menyampaikan hasratnya?
Mungkin kaum wanita menganggap usaha mereka itu sebagai ‘terhegeh-hegeh’ dan sebab itulah ia gagal dilaksanakan.
Diharap selepas ini kaum wanita terbuka hatinya untuk merubah budaya.
Wanita meminang lelaki adalah sesuatu yang lumrah. Selain Siti Khadijah meminang Rasulullah dan Saidina Umar juga pernah meminang Saidina Abu Bakar untuk puterinya Siti Habsah.
Jika mereka bertemu dengan lelaki yang layak menjadi pasangan maka ambillah peluang untuk memulakan lamaran. Jangan takut untuk mencuba dan berasa malu kerana jika ditolak sekalipun Allah pasti menjanjikan insan yang lebih baik untuk mereka.
Pernah pinangan Umar ditolak Saidina Abu Bakar, tetapi penolakan itu dilakukan dengan cara paling terhormat. Namun selepas itu Umar mendapat calon yang lebih baik apabila Rasulullah memperisterikan Siti Habsah.
Jelas Allah tidak akan mengecewakan hamba yang bersungguh melaksanakan syariat-Nya. Sayang sekali, malu kita tidak merujuk kepada syariat.
Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas berkata: “Ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah! Apakah kau memerlukan aku?” Puteri Anas yang hadir ketika mendengar perkataan wanita itu mencelanya dengan mengatakan dia tidak punya harga diri dan rasa malu. “Sungguh memalukan dan betapa buruknya…!” Anas berkata kepada puterinya itu: “Dia lebih baik daripadamu! Wanita itu senang kepada Nabi dan menawarkan dirinya!” (Riwayat Bukhari)
Pendakwah dan Pengarah Penyelidikan dan Modul Fitrah Perkasa Sdn Bhd, Pahrol Mohamad Juoi, berkata malu dalam Islam mesti diukur atas dasar iman.
“Tidak seharusnya seorang wanita berasa malu untuk memulakan langkah untuk melamar lelaki yang dirasakan layak untuknya.
“Malah, tiada tentangan dari sudut akidah, syariah dan akhlak Islamiah terhadap perkara berkenaan,” katanya.
Beliau berkata pendekatan yang digunakan perlu selaras dengan prinsip dan matlamat yang bertepatan dengan nilai agama.
“Umpamanya, wanita perlu menggunakan orang tengah iaitu keluarga, sahabat dan orang yang boleh dipercayainya untuk tujuan melamar.
“Jika diterima, alhamdulillah dan jika ditolak sekalipun tidak mengapa. Allah tetap menilai percubaan itu sebagai amal soleh kerana mereka sudah melakukan sesuatu yang halal dan harus di sisi Islam,” katanya.
Pahrol berkata tidak timbul soal perigi mencari timba kerana dalam sejarah Islam ada pihak wanita yang meminang lelaki dan begitulah sebaliknya.
“Kedua-dua cara berkenaan boleh dilaksanakan. Apabila ada wanita melamar lelaki yang dirasakan baik untuk dijadikan pasangan hidup ia adalah usaha yang sangat terpuji.
“Berjaya atau tidak, bukan soalnya kerana Allah menilai usaha berkenaan. Jangan sesekali berasa diri direndahkan.
Mereka perlu berasa malu jika terbabit dengan pergaulan bebas, pendedahan aurat dan tindakan haram lain untuk mendapatkan pasangan hidup,” katanya.
Beliau berkata pasangan hidup adalah teman yang akan bersama-sama membentuk keluarga dalam menjalani ibadat sebagai hamba Allah di atas muka bumi ini.
“Ini misi besar dan berat. Bermula dari keluarga barulah terbentuknya sebuah masyarakat, negara dan ummah. Untuk membentuk keluarga ini perlu kepada lelaki kepada wanita.
“Wanita tidak seharusnya rasa ‘terhegeh-hegeh’ atau tidak laku. Wanita yang dikatakan tidak laku dan terhegeh-hegeh ialah mereka yang mendedah aurat, berkelakuan tidak senonoh dan bergaul bebas sehingga ke tahap hilang rasa malu, menggadai iman serta akhlak Islamiah.
“Bagaimana umpan begitulah ikan yang akan kita dapat. Jangan terkejut jika wanita yang mendedah aurat (seksi) akan mendapat lelaki hidung belang sebagai pasangannya,” katanya.
Berdasarkan sejarah yang masyhur, Pahrol berkata Siti Khadijah tertarik dengan keperibadian Nabi Muhammad yang mempunyai sifat jujur dan bijak ketika menjalankan perniagaan.
“Semua maklumat itu diperoleh daripada hambanya, Maisarah yang ditugaskan membantu serta mengiringi Rasulullah ketika berniaga.
“Sepanjang bermusafir Maisarah melihat, merasai dan meyakini bahawa Nabi Muhammad memang seorang yang baik kemudian menyampaikan laporan kepada tuannya Siti Khadijah.
“Khadijah mempunyai ketajaman menilai sumber maklumat. Apabila maklumat yang diterima diyakini benar, Siti Khadijah bertindak memanggil bapa saudaranya dan saudaranya yang lain untuk menyatakan hasrat melamar Nabi Muhammad.
“Allah mengkabulkan hajatnya dan lamarannya diterima,” katanya.
Beliau menasihatkan perkara utama untuk mencari pasangan ialah menjaga akhlak dan keperibadian selain memastikan maklumat pasangan itu benar.
“Carilah saudara, rakan, ustaz atau sesiapa yang terdekat dengan lelaki pilihan kita. Setelah ada maklumat yang benar, dirikan solat istikharah untuk meminta Allah perteguhkan keputusan yang sudah ada atau meminta petunjuk membuat keputusan yang belum ada.
“Orang yang bersolat istikharah tidak akan kecewa kerana solatnya bukan saja mencari petunjuk Allah dalam membuat keputusan yang belum pasti, tetapi turut juga meminta diperteguhkan hati melaksanakan keputusan yang pasti.
“Selepas menetapkan keputusan, teguhkan azam dan terus bertawakal. Kemudian segerakan urusan lamaran dengan memilih wakil yang baik bagi urusan meminang dan seterusnya segerakan perkahwinan,” katanya.
Pahrol berkata bagi mereka yang sudah berusaha mencari pasangan, tetapi masih belum berjaya perlu bersangka baik kepada Allah.
“Penangguhan itu satu ujian yang pasti ada hikmahnya. Mungkin Allah hendak selamatkan mereka daripada mendapat suami yang jahat, pendera dan tidak bertanggungjawab.
“Jadi, berusahalah sambil menunggu ketentuan daripada Allah. Jangan membuat keputusan untuk tidak berkahwin sampai akhir hayat kerana ia bertentangan dengan syariat dan fitrah.
“Golongan yang menentang peraturan Allah akan menderita jiwanya dan hidup dalam kesepian. Dalam apa saja keadaan, beribadatlah sehingga kita berasa letih untuk melakukan maksiat,” katanya.
Beliau berkata gelaran seperti ‘andartu’ dan ‘andalusia’ tidak sewajarnya dilemparkan kerana hakikatnya mereka sedang diuji Allah.
“Orang yang diuji sepatutnya dibantu, dikasihi dan didoakan. Masyarakat Islam sepatutnya memikirkan bagaimana kaedah untuk mencarikan jodoh buat mereka,” katanya.

Saturday, February 5, 2011

Mencari Ilmu Hakiki




"Wahai anakku, bergaullah dengan ulama dan dengarkanlah perkataan ahli hikmah kerana sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah (Ilmu) sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan yang lebat"
(Lukmanul Hakim)

"Tidak ada yang lebih utama sesudah pekerjaan fardhu selain menuntut ilmu"
(Imam Muhammad Idris As-Syafi'e)

"Ilmu yang ada di dalam hati laksana matahari pada tempat peredarannya dan Ilmu yang ada pada seseorang laksana mahkota bagi raja"
(Kata-Kata Hikmah)

"Menuntut Ilmu lebih utama daripada solat sunat"
(Imam Muhammad Idris As-Syafi'e)

"Ilmu adalah sebaik-baik pusaka (warisan)."
(Ali bin Abi Talib)

"Orang yang tidak menyukai Ilmu, maka tidak ada kebaikan padanya"
(Imam As-Syafi'e)

"Aku menuntut Ilmu sehinnga aku masuk ke lubang kubur"
(Imam Ahmad Bin Hanbal)

"Orang 'alim itu mulia walaupun ia kecil, sedang orang bodoh itu kecil walaupun ia tua renta. Belajarlah kamu kerana tidak seorang pun lahir dalam keadaan berilmu. Tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh. Sesungguhnya pembesar sesuatu kaum yang tidak berilmu itu kecil apabila berkumpul dalam majlis"
(Ahlus Sya'ir)

"Sekiranya Allah menghendaki kebaikan buat seseorang, nescaya Dia akan memberi kefahaman tentang agama kepada orang tersebut."
(Riwayat Bukhari & Muslim)




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...